Self-Motivated and Optimistic

Saya ingat betul dalam beberapa interview, selalu ditanyakan "pernahkah saya mengalami kegagalan dan bagaimana cara saya mengatasinya?". Jawaban yang saya berikan pada intinya selalu sama, hanya kalimatnya saja yang berbeda-beda. Sesungguhnya pertanyaan tersebut merupakan hal umum dalam sebuah interview, apapun jenis interview-nya (untuk beasiswa ataupun bekerja). Saya tidak merasa susah untuk menjawabnya karena apa yang saya sampaikan benar-benar terjadi dalam hidup saya dan menjadi titik balik yang membuat saya benar-benar bangkit dari kegagalan. 


"What doesn't kill you makes you stronger!" begitulah kira-kira sesuai lagunya Kelly Clarkson

Make Things Happen: Motivation

Salah satu pengalaman berada di posisi terendah dalam hidup saya adalah ketika ayah saya jatuh sakit di awal tahun 2008 (saya akan masuk SMA) hingga beliau meninggal di tahun 2016 kemarin (8 tahun sakit). Kontan di awal jatuh sakitnya ayah membuat keluarga saya tidak memiliki pemasukan sama sekali. Saya dan kedua kakak saya yang kala itu masih sekolah mau tidak mau bersama ibu harus berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan hidup dan bersekolah. Selain bekerja setelah jam pulang sekolah, kami bekerja bergantian membantu ibu berjualan dan membuat kue, jajanan tradisional, dan kerajinan tangan untuk dijual di toko sederhana milik kami dan dititipkan di pasar. Tidak ada alasan bagi kami untuk putus sekolah dan berprestasi. Diawali dari kakak saya yang melanjutkan studinya dengan beasiswa penuh. Dua tahun berikutnya, giliran saya (adiknya) mendapatkan beasiswa penuh untuk kuliah di kampus negeri yang berbeda sekaligus menjadi awal pertama saya pergi merantau jauh dari rumah.

Tidak hanya berhenti disitu, tertarik dengan prestasi-prestasi yang diraih oleh kakak saya yang saat itu beruntung mendapatkan beasiswa double degree di Jerman membuat saya semakin bersemangat mengejarnya. Puluhan beasiswa saya apply, banyak yang menolak dan ada beberapa yang menerima, dan hanya ada dua atau lebih beasiswa yang benar-benar saya ikuti prosesnya hingga akhir. Saya tidak pernah merasa kalah sebelum benar-benar mencobanya dan mengetahui batas kemampuan saya. Sampai akhirnya, ke Jepang-lah yang menjadi pilihan saya kala itu. Beberapa tahun setelahnya, saya tidak merasa puas dengan pengalaman di Jepang, saya lanjutkan perjuangan melamar beasiswa yang sama dan tidak jauh berbeda kisahnya. Sampai akhirnya saya mendapatkan beasiswa Erasmus di Eropa. Selain dari faktor doa, keputusan Tuhan, dan restu ibu, saya yakin hal tersebut tidak terlepas juga dari usaha keras dan motivasi yang teguh untuk terus move on dari kegagalan. Seandainya setelah ditolak satu atau dua beasiswa saya menyerah, maka jelas akan berbeda kisahnya.

Banyak sekali rangkaian kata-kata motivasi dan kalimat-kalimat super indah dari tokoh terkenal yang dapat dengan mudah kita jumpai di internet. Namun bukan hal itu yang saya rasakan benar-benar memotivasi saya selama ini. Diri sendiri dan pengalaman (pernah gagal dan berhasil bangkit)-lah yang membuat kita semua tidak berhenti berjuang. Kegagalan yang pernah kita rasakan dan keberhasilan yang telah diperjuangkan-lah yang benar-benar membuat kita semakin haus dengan keberhasilan dan yakin bahwa di suatu titik kita akan mendapatkan hasil yang kita inginkan. Ditambah lagi, dengan keinginan tidak ingin berada di tempat yang sama-lah yang membuat saya tidak gampang menyerah.

Tentunya apa yang saya alami dan rasakan pasti akan berbeda dengan orang lain karena Tuhan pastinya sudah menciptakan skenario yang unik untuk masing-masing ciptaan-Nya. Untuk itu, menemukan hal-hal yang dapat dijadikan motivasi hidup sangatlah penting. Dari beberapa cacatan pribadi saya, beberapa hal yang pernah saya anggap memotivasi saya, antara lain:
  • Pengalaman pernah dihina tetangga sekitar rumah karena saya tidak bersekolah TK.
  • Pengalaman dijauhi teman karena kurang pandai sepak bola.
  • Pengalaman dijauhi dan dihina teman dan tetangga karena miskin.
  • Pengalaman di-bully karena dianggap terlalu berkulit putih dan bersih untuk ukuran anak kampung.
  • Pengalaman di-bully karena tidak mentraktir teman saat ulang tahun dan saat ranking 1 di kelas.
  • Dan masih ada beberapa pengalaman pahit yang tidak bisa disebutkan disini.
Namun setelah saya pikirkan matang-matang, bukan hal tersebut yang selama ini memotivasi saya untuk berjuang lebih. Mungkin bisa jadi hal tersebut pada awalnya memang memotivasi saya, tetapi tidak akan bertahan lama efeknya. Motivasi internal, dari pengalaman gagal dan kedisiplinan untuk berubahlah yang menjadi motivasi terkuat bagi masing-masing pribadi. Bagi saya, optimis adalah mempercayai janji Tuhan bahwa "Dia hanya memberikan tiga hal: yang baik, lebih baik, dan terbaik kepada siapapun yang berusaha".

Everything is Possible
Optimis bukanlah keinginan atau usaha untuk tidak mudah menyerah. Tetapi lebih kepada menyadari bahwa apa yang terjadi memiliki arti khusus (positif) dan selalu memiliki dampak yang baik untuk diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Begitulah kira-kira saya mengatasi kegagalan dengan cara menyerahkan hasilnya pada kuasa Tuhan setelah sebelumnya berusaha semampunya untuk melakukan yang terbaik.

Selain apa yang sudah saya sampaikan, secara khusus dari berbagai sumber bacaan, saya rangkum beberapa manfaat memiliki sifat optimis sebagai berikut:

  • Akan menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan tidak lari dari masalah
  • Terdorong untuk selalu positif dan berprasanga baik pada apapun
  • Menganggap sesuatu sebagai peluang, kesempatan, dan kemungkinan
  • Menjadi pribadi yang lebih berhati-hati dan mawas diri
  • Menjadi pribadi yang lebih sadar nikmat dan semakin bersyukur
  • Mengurangi cemas dan stress yang berlebihan sehingga lebih bahagia, sehat dan bergairah
  • Menarik banyak orang untuk mendekat (banyak teman)
  • Terdorong untuk menjadi lebih sukses dan berprestasi

Categories

management (15) supply chain (10) career (9) hairashid (9) FMCG (8) HR (7) hidayah (7) islam (7) retail (6) marketing (5) traveling (5) sales (3) recruiter (2)
Copyright © HAIRASHID | Design by HAIRASHID