The Modern Side of Italy, Milano

Dua jam sebelum keberangkatan, sekitar pukul 4 pagi lebih tepatnya, saya sudah tiba di Letisko Bratislava atau Letisko M.R. Stefanika (Airport BTS) dan memasuki ruang tunggu bandara. Tidak banyak barang yang saya bawa, hanya 1 koper kecil berisi pakaian dan keperluan pribadi. Dengan penerbangan Ryan Air paling pagi, kali ini saya akan berkunjung ke Milan, Lombardy Italy. Hanya satu kota selama lima hari ke depan karena saya benar-benar ingin menikmati waktu selama disana. Beruntung saya sudah ada kenalan seorang pria 27 tahun yang memang sudah bekerja dan tinggal di Milan, Domenico. Sesuai dengan arahannya, saya hanya disuruh memikirkan tiket pesawat pergi dan pulang saja karena segala keperluan saya di Milan akan sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya. 


Sekedar pengantar, saya dan Domenico bertemu karena kami memiliki mutual friend di Facebook. Tepatnya beberapa bulan lalu, saya sapa dia duluan dan akhirnya kami terlibat percakapan, terasa nyambung, dan untungnya cocok. Akhirnya terjadilah hari ini dimana akan menjadi pertemuan pertama kami setelah beberapa kali video call. Selain berkuliah master di POLIMI, dia juga bekerja sebagai consultant di KPMG Italy. 


Oiya, perjalanan kali ini berasa amat begitu special karena kali ini saya duduk di tepi jendela langsung. Baru setengah perjalanan, saya langsung bisa melihat jajaran pegunungan Alpen yang tertutup salju tebal. Rasanya pesawat yang saya tumpangi tidak terbang terlalu tinggi sehingga dengan jelas saya bisa melihat sekelompok orang sedang meluncur di arena ski.


Alps from Above

===###===

Sebagai kota metropolitan dan ter-populous kedua setelah Rome di Italy, Milan memiliki empat airport terdekat: Linate dan Malpensa (mostly melayani penerbangan International), Orio al Serio atau lebih dikenal sebagai Bergamo Airport (BGY) untuk domestik di Schengen area, dan Parma Airport untuk kebanyakan budget airlines dan jet pribadi. Kali ini pesawat saya akan menuju ke Bergamo (45 km dari pusat kota Milan) dan dari sana saya harus menggunakan bus untuk menuju pusat kota Milan. Tidak semahal airport bus seperti di Brussels, cukup 5 EUR sudah sampai di pusat kota Milan. Caranya cukup mudah, hanya dengan berjalan keluar pintu penjemputan dan disana sudah berjajar banyak bus OrioShuttle yang dikelola oleh ZANI. Tidak perlu takut salah bus karena semua bus disana hanya memiliki satu tujuan yaitu Central Train Station Milano. Perlu diketahui, alternatif transportasi bus OrioShuttle sejauh ini adalah yang terbaik dan ter-ekonomis menurut saya, karena alternatif lainnya jauh lebih mahal, lebih lama, dan jadwalnya tidak se-sering bus ini yang selalu tersedia setiap 30 menit. Perjalanan ke pusat kota Milan berdurasi sekitar 1 jam. Tidak perlu bingung karena tujuan bus ini hanya satu yaitu di Central Station. Bus stop OrioShuttle berada di samping dan belakang bangunan Central Station di bawah ini.



Milano Stazione Centrale via Pisani
Sesampainya di Central Station, bahkan saat saya masih di dalam bus, dari kejauhan saya dapat langsung melihat Domenico di samping mobil BMW-nya. Seturun-nya dari bus, saya langsung dihampiri Domenico, kami berpelukan, dan dia berniat membawakan koper kecil saya ke mobilnya. Kesan pertama saat melihat sosoknya secara langsung adalah rasanya seperti kami sudah saling kenal lama sekali. Tidak berlama-lama di Central Station, Domenico langsung mengajak saya berkeliling kota dengan mobilnya karena pagi ini Milan sangat dingin dan berkabut. Selama di mobil, banyak hal yang kami bicarakan dan Domenico dengan ramahnya menerangkan seisi kota dan tempat apapun yang kami lewati. Tidak lupa pula, sebelum sampai di apartemennya, dia mengajak saya sarapan di restoran khas Italy favoritnya di dekat Duomo, Al peck Ristorante.


===###===


Setelah sarapan (brunch sih lebih tepatnya), Domenico langsung mengajak saya ke apartemennya di daerah Lambrate. "Mi casa es tu casa", begitulah kata Domenico seketika dia membukakan pintu apartemen yang bertipe studio miliknya. Rupanya dia tinggal disana sendirian dan hanya ada satu springbed kingsize dan satu couch di ruang TVnya. Menurut saya apartemennya cukup lengkap untuk ukuran mahasiswa dan letaknya strategis karena dekat dengan berbagai fasilitas publik, seperti stasiun kereta Lambrate, metro Lambrate, beberapa halte bus dan dekat juga dengan kampusnya. Di depan apartemennya juga ada taman yang pastinya akan indah jika sedang spring atau summer, Piazza Piero Gobetti.

Siang itu, Domenico menyarankan saya untuk lanjut tidur atau ngobrol-ngobrol di kasur sambil istirahat saja karena sore-nya dia akan mengajak saya sightseeing dan makan malam di pusat kota dilanjutkan menikmati nightlife di Milan. Menurutnya Milan terasa lebih hidup jika di malam hari karena di siang hari semua orang masih sibuk bekerja dan kuliah. Perlu diketahu bahwa too early jika kita ke club sebelum pukul 11 malam, maka sudah kebayang kan yang dinamakan nightlife di Europe itu dimulai jam berapa? Yap, standar-nya klub mulai ramai adalah jam 12 malam dan tutup hingga jam 6 pagi disaat tram dan metro mulai beroperasi kembali.

===###===

Sekitar pukul 7 malam, setelah bangun tidur dan mandi, kami langsung berjalan menuju stasiun metro terdekat, Lambrate FS. Kami memutuskan untuk naik Metro agar tidak memikirkan soal parkir mobil dan bisa dengan leluasa berjalan kaki di pusat kota. Dari Lambrate FS, kami ambil metro M2 ke arah Loreto dan berganti M1 ke arah Duomo (5 stasiun dari Loreto). Sesampainya di stasiun metro Duomo, kami langsung naik dan berjalan menuju Piazza del Duomo dan menghabiskan sebagian malam dengan berjalan-jalan di Galleria Vittorio Emanuele II dan window shopping di sekitar Duomo.

Memang pantas jika Milan dideklarasikan sebagai salah satu fashion capital oleh Global Language Monitor. Sejauh mata memandang, begitu mudah saya jumpai billboard salah satu annual event fashion terbesar di dunia, Milan Fashion Week. Selain itu, nuansa fashion Milan terasa dan terpancarkan dari shopping street yang mengelilingi Duomo (Quadrilatero d'Oro). Sebagai tambahan destination list selama di Milan, jangan sampai melewatkan untuk mampir atau sekedar window shopping di beberapa shopping street berikut: Piazza Del Duomo, Galleria Vittorio Emanuele II, Giacomo Arengario, The Quadrilatero della Moda, Via Monte Napoleone (shopping street termahal di dunia), Via della Spiga, Corso Venezia, Via Manzoni, Via Dante, Corso Buenos Aires, Piazza San Babila, dan Corso Vittorio Emanuele II. 

Ya meskipun tidak beli, jalanan di Milan foto-able banget kok. Beberapa brand terkenal dan asli Italy juga rata-rata memiliki private gallery di sepanjang shopping street yang sudah saya sebutkan. Beberapa brand yang saya jumpai dan masih ingat diantaranya: Armani, Bottega Veneta, Canali, Costume National, Dolce & Gabbana, Dquared2, Etro, Iceberg, Les Copains, Marni, Missoni, Miu Miu, Moncler, Frankie Morello, Moschino, MSGM, Giuseppe Zanotti, Zagliani, Ermenegildo Zegna, dan Luxottica.

Gallerie Vittorio Emanuele II and Piazza del Duomo
Jalan-jalan sambil ngobrol dengan Domenico benar-benar tidak terasa dan menyenangkan, padahal mungkin jika diukur, sejak keluar apartemen kami sudah berjalan kaki lebih dari 10 km. Oiya, tadi kami memutuskan untuk makan malam di salah satu restoran terkenal yang menjadi langganan artis dan top model di Milan, Ristorante Pisacco. Dan benar saja saat itu kami bertemu top model, Pietro Boselli disana. Beberapa salad dan makanan khas Italy yang menurut saya hampir mirip sushi dan sashimi, serta beberapa gelas red wine menjadi menu andalan yang kami pilih.

Setelah makan malam, sesi jalan-jalan masih berlanjut sekalian menuju club andalan Domenico, Mono. Tujuan kami selain dance dan mengeluarkan keringat malam-malam, ternyata Domenico juga ingin memperkenalkan saya ke teman-temannya.

===###===

Mono, Milano

Sekitar pukul 12 malam, kami sudah berada di depan Mono dan saya diminta menunjukkan ID atau kartu mahasiswa untuk bisa masuk ke dalam club. Biaya masuk club terbilang sedang untuk ukuran mahasiswa, yaitu 20 EUR free cocktail or beer. Di dalam club saya benar benar gunakan skill komunikasi saya, cukup mudah ternyata untuk mendekati orang Italy. Menurut saya, mereka lebih terbuka dan open-minded dibandingkan orang Eropa lainnya. Selama di club, saya banyak gunakan untuk ngobrol, fuzball, dan dance bersama Domenico dan teman-temannya. Tetap saya usahakan untuk tidak mabuk dan tahu batas berhenti minum, maklum pengalaman hungover selama Oktoberfest masih tidak ingin saya lupakan. hehe

Sekitar pukul 5 pagi, kami langsung bergegas pulang menggunakan Metro. Saya benar-benar tidak memperhatikan itu metro line barapa, yang penting segera sampai kasur saja bawaannya. Entah kelelahan, ngantuk, atau mabuk, who knows?. Sesampainya di apartemen, kami langsung mandi air hangat dan tidur.

===TO BE CONTINUED===

Categories

management (15) supply chain (10) career (9) hairashid (9) FMCG (8) HR (7) hidayah (7) islam (7) retail (6) marketing (5) traveling (5) sales (3) recruiter (2)
Copyright © HAIRASHID | Design by HAIRASHID