Hidayah (Part 3)



Mengembalikan keadaan iman seseorang yang sedang menurun bukanlah perkara yang mudah. Selain dibutuhkan kesadaran pribadi atau hidayah, juga dibutuhkan trigger atau pemicu yang lebih kuat dari alasan "kenapa memilih menjadi muslim". Well, disini-lah letak susahnya bagi orang yang secara otomatis menjadi muslim sejak lahir, seperti saya. Jujur saja, ini-lah awal mula dan menjadi akar permasalahan di hidup saya. Saya menganggap agama saya adalah warisan dan saya ingat betul pernah mempertanyakan pada guru agama saya di SMA dan pernah pula saya berdoa agar Allah menunjukkan kepada saya bahwa saya tidak sedang berada di jalan yang salah.

Sekarang, setelah mengalami kemerosotan iman dan hidup saya menjadi kurang tenang meskipun secara lahiriah kebutuhan saya terpenuhi, Alhamdulillah saya masih disadarkan dan diberikan kesempatan bertaubat. Kali ini saya benar-benar telah menemukan alasan yang tepat dan tidak bisa saya deskripsikan dengan kata-kata karena rasa yakin itu benar-benar ada di hati dan dengan ijin Allah saya tidak akan meragukan kebenaran Islam.

Hanya saja, hingga saat ini saya sungguh masih mencari alasan kenapa saya bisa tiba-tiba tersadar. Saya juga masih memikirkan bagaimana cara agar seseorang mendapatkan hidayah. Selain karena doa ibu, saya cuma yakin bahwa semua itu tidak akan terjadi jika bukan karena faktor atas ijin Allah dan petunjuk Allah SWT.

Maksud dari saya menuliskan pengalaman pribadi disini adalah sebagai pengingat dan penyemangat pribadi. Yang lalu biarlah berlalu karena bad-day pasti berlalu. Tugas saya selanjutnya adalah menjadikan masa lalu sebagai pelajaran untuk melakukan yang lebih baik di masa kini dan masa mendatang. Semoga kepada siapapun pembaca, tulisan ini bisa memberikan pelajaran mengenai sebab-sebab turunnya iman dan bagaimana cara mengatasinya dari pengalaman saya pribadi.

===###===

Setelah beberapa bulan menenangkan diri, introspeksi dan bertahap melakukan perbaikan, saya bisa menyimpulkan sebab menurunnya iman saya sebagai berikut:
  • Faktor Kebodohan. Tentunya tidak akan ada yang sadar jika sedang melakukan kebodohan dan tidak akan ada yang terima jika dikatakan bodoh. Solusi-nya akan lebih baik jika kita selalu sadar bahwa ilmu yang kita miliki saat ini tidak akan pernah cukup dan tidak ada apa-apanya. Sebanyak apapun hal kita ketahui, itu hanyalah sepersekian persen dari ilmu yang ada di alam raya, maka penting kiranya bagi siapapun untuk sadar bahwa kita semua masih bodoh dan masih perlu banyak belajar.
  • Menolak Kebenaran dan Merasa Benar. Akibat dari kebodohan ditambah sifat ego-sentris, secara alami pikiran akan menjadi defensive. Ketahuilah fakta bahwa sifat defensive itu ada karena eksistensinya sedang terancam dan tujuan-nya adalah untuk memperoleh status. Bahkan pernah saya berpikiran bahwa hokum islam itu sudah tidak relevan dengan jaman, padahal ilmu saya belum ada apa-apanya untuk sekedar menyalahkan satu saja hokum islam.
  • Enggan Mencari Ilmu. Karena kebodohan ditambah kesombongan-lah, seseorang menjadi malas untuk belajar dan mencari ilmu tanpa henti. Jika ilmu dunia bisa di dapat di Sekolah, ilmu akhirat bisa diperoleh selain dengan membaca kitab juga seringkali bisa didapat dengan mengikuti majelis. Itulah pentingnya sebuah majelis sebagai penguat fondasi keimanan.
  • Terlalu Cinta Dunia. Terlalu memikirkan keberhasilan yang sifatnya sangat duniawi, membuat saya membandingkan diri saya dengan orang lain yang bahkan tidak mempercayai keberadaan Tuhan. Padahal setelah saya mantap dengan iman saya, saya yakin apapun kesuksesan saya di dunia hanyalah titipan dan masih ada masa yang lebih kekal setelah kematian. Setelah melalui beberapa tahap perbaikan diri, saya jadi sadar bahwa saya seringkali merasa bosan setelah tujuan saya tercapai dan ujung-ujungnya menjadi kurang bersyukur. Itulah minusnya jika hanya memperjuangkan kenikmatan dan keberhasilan duniawi, nikmatnya hanya sekejap.
  • Dosa yang terlampau banyak. Jika semakin sering melakukan kebaikan membuat kita terdorong untuk selalu berbuat baik, maka hal tersebut juga terjadi ketika kita melakukan keburukan atau dosa. Semakin sering dosa itu dilakukan, maka diri kita menjadi terbiasa, misalnya jika seseorang yang pada awalnya tidak enak untuk meninggalkan sholat, jika dilakukan berulang kali, maka suatu saat dia akan biasa-biasa saja jika meninggalkan sholat.
  • Pergaulan dan Lingkungan Yang Mendukung. Faktor lingkungan tidak bisa terpisahkan dari peristiwa pembentukan karakter seseorang. Dari pengalaman pribadi, seringkali lingkungan-lah yang mendukung saya untuk menentang ajaran agama. Seolah mendapatkan dukungan, saya masa bodoh dengan kesalahan yang saya lakukan. Dengan menjadi minoritas contohnya, disaat akan ujian dan ada rapat atau kerja kelompok misalnya, saya bisa-bisanya merelakan waktu sholat saya dan masih banyak hal-hal lainnya yang karena lingkungan seolah-olah memberikan pembenaran sehingga saya lakukan. Selain itu, pergaulan atau bertemanan dengan orang yang fasiq dan terbiasa melakukan dosa juga pasti lambat laun akan menuntut kita untuk menjadi sama, maka berhati-hatilah.

===###===·






Dari penjelasan saya di atas, berikut saya sertakan anjuran singkat berdasarkan apa yang saya alami  beserta kiat-kiat bagaimana saya bangkit dan sadar:
  • Semua berawal dari adanya kejadian yang membuat hati kita bergetar ketika mendengar adzan, ayat-ayat Al-Qur’an, serta ceramah-ceramah yang sifatnya amat sangat personal sesuai dengan apa yang sedang kita rasakan. Berdasarkan yang saya alami, saya menjadi sadar ketika pertama kali mendengarkan adzan di airport sesampainya di Indonesia. Kedua adalah disaat menghayati dan mendengar ayat-ayat Al-Qur’an dan nasihat-nasihat ibu yang masih berhubungan dengan Al-Qur’an, dan Ketiga adalah ketika banyak belajar dari majelis ilmu baik pengajian langsung dan youtube, topik yang saya anjurkan adalah mengenai keagungan Al-Qur’an yang kebanyakan membahas ayat-ayat kauniyah, kemudian lihatlah video-video mualaf yang tainya terpanggil oleh kebenaran islam. Dari sana anda bisa terarah untuk lebih menghargai bahwa syahadat bukan sekedar rangkaian kata melainkan butuh penghayatan dan diucapkan dengan sungguh-sungguh dan butuh pengamalan.
  • Menghadiri majelis ilmu. Tujuannya adalah mengingatkan bahwa ilmu yang saat ini kita miliki adalah masih sangat kurang. Masih banyak hal yang saat ini masih belum kita ketahui dan butuh pendalaman. Dalam kasus saya, harus saya akui bahwa antara ilmu agama dan ilmu dunia saya tidak seimbang. Bahkan diantara ayat-ayat kauniyah dalam Al-Qur’an-pun saya masih belum banyak tahu jika hingga saat ini mulai banyak yang terbukti dan sangat relevan dengan sains dan perkembangan jaman.
  • Langkah selanjutnya adalah semakin mendekatkan diri dengan orang yang lebih baik, lebih shalih, dan berteman dengan orang yang positif, bukan ahli dosa dan maksiat. Berteman dengan siapapun memang diperbolehkan, tetapi harus selalu ingat dengan batasan hal-hal vital semacam ibadah dan kaidah. Saling menghormati dan menyayangi tidak harus ikut dengan melakukan dosa bersama.

Categories

management (15) supply chain (10) career (9) hairashid (9) FMCG (8) HR (7) hidayah (7) islam (7) retail (6) marketing (5) traveling (5) sales (3) recruiter (2)
Copyright © HAIRASHID | Design by HAIRASHID