Hidayah (Part 1)


Mendengar dan mengetahui nama saya saja anda pasti sudah bisa dengan yakin menebak saya seorang muslim. Alhamdulillah saya dilahirkan di keluarga muslim yang taat, ibu saya utamanya. Beliau adalah wanita yang sangat taat, tidak pernah ketinggalan sholat 5 waktu berjamaah di masjid, selalu puasa Senin-Kamis, selalu mengerjakan Tahajjud dan Dhuha, serta menjadi ustadzah dan pemimpin pengajian Manaqib dan Qasidah di kampung sana (semoga Allah selalu menyayangi beliau, Amiin). Semua anak beliau termasuk saya, selain menjalani pendidikan formal juga di-didik untuk selalu mengaji di rumah uztad pada sore hari dan mengaji di rumah pada malam harinya. Rutinitas tersebut saya jalani hingga kelas IX SMA karena selepasnya seringkali disibukkan dengan tugas sekolah dan kerja kelompok. Tetapi setidaknya saya tidak pernah meninggalkan mengaji setelah subuh.

Di tahun 2011, Alhamdulillah impian saya untuk kuliah dan meninggalkan rumah tercapai. Untuk pertama kalinya saya pergi jauh dari rumah. Saya pindah ke Bogor, dimana saya tidak memiliki sanak saudara disana, selain alumni SMA yang berkuliah disana juga. Perjalanan saya selama kuliah dari semester 1 hingga semester 5 biasa-biasa saja layaknya mahasiswa pada umumnya. Saya banyak disibukkan urusan dan goal-goal dunia dan melupakan elemen yang sangat penting, yaitu doa dan berserah diri pada Allah. Yang saya lakukan bukanlah sesuatu yang buruk, saya tetap sholat 5 waktu dan menjauhi hal-hal yang diharamkan oleh Islam. Tapi bukan itu intinya, satu elemen yang semakin pudar dari saya kala itu adalah rasa percaya dan berserah sepenuhnya kepada Allah.

Sedikit pencerahan, di semester 5 saya mendekatkan diri dengan majelis dzikir Al-Hikmah dan rutin mengikuti dzikir bersama, pengajian, dan perayaan maulid nabi bersama teman-teman seperjuangan. Saya terselamatkan karena majelis tersebut yang jujur sedikit banyak telah merubah jalan pikiran saya. Saya didekatkan dengan orang-orang baik dan bersedia menjadi teman dikala suka dan duka selama kuliah. Bahkan di waktu selain pengajian, kami selalu belajar bersama setiap sebelum ujian dan diakhiri dengan masak-masak dan makan bersama sebagai salah satu ungkapan syukur setelah ujian. Beberapa doa saya Alhamdulillah dikabulkan oleh Allah SWT diantaranya beberapa kali menjuarai lomba, IPK terjaga sehingga selalu sangat memuaskan, dan saya bisa melanjutkan pendidikan di Eropa.

Tahun 2015 saya mulai kuliah di Eropa. Tinggal di lingkungan dimana umat muslim menjadi minoritas dalam waktu yang cukup lama membuat saya beradaptasi. Sayangnya, saya beradaptasi dengan pola dan ke arah yang salah. Jujur saja, bisa dibilang saya malah mengikuti pola pikir yang salah kala itu. Saya paham dan sadar bahwa apa yang saya lakukan itu salah bahkan beberapa merupakan hal yang dilarang dan diharamkan oleh Allah SWT. Hati saya yang kering terbawa bujuk rayu syaitan dan keindahan dunia yang hanya sementara. Beberapa pembelaan diri saya waktu itu misalnya:

  1. Ah Islam ini kan aturan aturannya kuno, engga tau keadaan dunia modern, jadi ajarannya udah kurang relevan.
  2. Kalo gue ngelanggar beberapa larangan, toh buktinya banyak non-muslim juga yang setiap hari melanggar masih engga apa-apa. bahkan mereka bisa sukses dan kaya-kaya.
  3. Minum wine dan alkohol lainnya engga apa apa asal engga sampe mabuk dan black-out.
  4. Sex bebas engga apa-apa selama main aman. Kan muda cuma sekali, lakukan kesalahan mumpung muda biar tuanya engga menyesal karena belum ngapa-ngapain.
  5. Beberapa kyai dan ustadz bahkan banyak yang contoh dulunya sempat nakal dan banyak melanggar larangan, konsumsi narkoba, suka zina, main judi, terus mereka taubat dan jadi baik. apalagi pas tuanya mereka jadi makin rajin beribadah
  6. Saya berhasil karena usaha keras, buktinya engga doa dan beberapa kali ketinggalan sholat saya masih bisa dapet nilai baik dan dapet rejeki, yang penting kan saya engga durhaka ke orang tua
  7. Kalo ga ikutan temen ke club, ikutan minum, dan sex, bahkan profesor gw bilang ga gaul dan kesempatan dapet temen bisa berkurang.
  8. Kalo pas traveling, mending hotelnya kalau bisa sekamar aja biar bisa mandi bareng dan tidur bareng, selain hemat ekonomis juga lebih aman tidur sama temen sendiri.
  9. Lingkungan saya sekarang banyak atheis-nya, kok kayaknya mereka berpikirnya rasional banget, engga kayak muslim yang selalu berdasarkan ini dan itu, banyak bidah, sesama muslim aja saling serang.
  10. Muslim kok banyak musuhnya, banyak yang engga suka dan dimana-mana ada protes, bahkan di bandara engga nyaman, pemeriksaannya berlebihan, dimana mana dicurigai sebagai teroris.

Hal-hal buruk tersebut selalu bergejolak di pikiran saya selama di luar negeri hingga saat pulang ke Jakarta di tahun 2017 kemarin. Sampai di bandara Soekarno Hatta, saya secara tidak sengaja mendengarkan adzan maghrib untuk pertama kalinya setelah sekian lama tidak mendengar suara adzan yang keras. Spontan, tidak terasa mata saya langsung sembab, meneteskan air mata, dan memerah. Bahkan selama di ruang pengambilan bagasi, rasa yang selama ini saya rindukan tiba-tiba datang, saya merasakan urgensi harus segera mengambil wudhu dan sholat magrib dan mengganti sholat yang saya tinggal selama 15 jam penerbangan. Namun sayang, saat itu saya harus segera mengejar pesawat selanjutnya yang akan membawa saya pulang ke Surabaya, jadinya saya berharap menjamaknya dengan isyak saja.

Hal sepele menunda sholat seperti ini saja, menunda loh ya, saya padahal sudah niat menjamak jika saya sudah sampai rumah, dan di pesawat saat pesawat sudah di langit, tangis saya semakin menjadi jadi. Bahkan air mata saya tak henti-hentinya keluar sampai saya menjadi pusat perhatian pramugari dan passsanger di sekitar bangku saya. Padahal saya sendiri juga bingung ingin menghentikan air mata yang menghabiskan banyak tisyu dan baju saya seakan basah karena saya gunakan untuk lap. Setiap kali orang bertanya kenapa, saya hanya senyum dan bilang kelilipan. Dalam hati, sepertinya saya takut pesawat itu jatuh dan apalagi saya kan belum sholat. Maklum, setelah naik maskapai penerbangan eropa yang menurut saya lebih safe, waktu itu saya tiba-tiba naik Lion Air hanya demi tiket yang lebih murah. Iya saya takut mati dan sadar dosa-dosa saya banyak sekali dan saya belum sempat bersuci, sholat dan bertaubat.

Setelah pesawat mendarat dengan aman, saya langsung bergegas mengambil bagasi dan segera menuju mobil jemputan di parkir bandara juanda. Sungguh lega rasanya bisa bertemu kembali dengan ibu saya. Saat pertama kelihatan, tidak ada hal lain yang saya lakukan selain memeluknya dan meminta maaf. Saya tidak berani bercerita tentang hal buruk apa saja yang sudah saya lakukan kala itu. Intinya saya hanya berharap banyak untuk segera bertaubat dengan sungguh-sungguh dan sekuat tenaga.

 ===TO BE CONTINUED===

Categories

management (15) supply chain (10) career (9) hairashid (9) FMCG (8) HR (7) hidayah (7) islam (7) retail (6) marketing (5) traveling (5) sales (3) recruiter (2)
Copyright © HAIRASHID | Design by HAIRASHID