Hidayah (Part 2)


Saya berpikir, iman seseorang itu wajar jika mengalami pasang surut seperti yang saya alami. Di malam kedatangan saya di Indonesia-lah saya memutuskan dengan bersungguh-sungguh untuk bertaubat. Namun jangan beranggapan bahwa kisah taubat saya mulus dan baik-baik saja. Sungguh saya membutuhkan trigger (pemicu) yang kuat untuk bisa kembali menjadi muslim yang taat. Di titik ini bahkan saya merasa sudah semi-murtad dan saya harus benar-benar mencari cara untuk sadar "kenapa saya harus menjadi muslim kembali?".

Tanpa sepengetahuan ibu, saya lakukan research sendiri dengan bantuan google dan bertanya ke teman teman yang saya anggap muslim yang lebih taat. Singkat cerita, setelah dua hari Saya tidak dapatkan apa-apa dengan bertanya ke teman, begitu pula dengan google dimana saya hanya mendapatkan tulisan-tulisan yang kurang greget dan sama sekali tidak menggugah iman saya untuk kembali. Saya coba baca Al-Qur'an kembali, tetapi saat itu yang saya rasakan adalah bacaan yang saya baca terasa kosong, terjemahan-nya pun terasa cuma lewat di kepala, dan keyakinan saya belum sepenuhnya kembali. Sampai tiba di malam ke lima, saya putuskan untuk kembali menjalani sholat tahajud bersama ibu. Kali ini saya minta beliau untuk membangunkan saya dengan cara apapun, disiram air kalau perlu. Malam sebelumnya saya tidak dibangunkan oleh ibu karena saya masih capek dan beradaptasi dengan jet lag. 

Jam 2 pagi, saya dibangunkan oleh ibu, sambil buka mata, saya langsung menangis dan menceritakan banyak hal buruk yang saya alami dan lakukan kepada beliau. Saya tidak menyangka kata pertama yang keluar dari lisan beliau adalah "Alhamdulillah". Beliau bersyukur karena saya diberikan kesempatan bertaubat setelah melakukan banyak kesalahan di masa muda. Beliau berpesan agar saya mengucapkan syahadat kembali dan mengulang-ulanginya sebanyak mungkin, memperbanyak istighfar, meningkatkan ibadah dan menghadiri majelis ilmu agama. Malam itupun dilanjutkan kami sholat tahajjud bersama diakhiri sholat subuh berjamaah di masjid.

Permasalahan saya tinggal satu, iman saya belum kembali seperti semula. Ibadah yang saya lakukan masih terasa hampa dan tidak berarti apa-apa, selain hanya mengerjakan kewajiban kepada Allah semata. Hipotesis yang saya ambil kala itu adalah karena dosa saya masih sangat banyak, saya harus mandi junub, melakukan sholat taubat dan istighfar sebanyak-banyaknya hingga saya sedikit bersih dari dosa. Setelah saya lakukan itu semua, di malam berikutnya saya kembali bercerita ke ibu masalah iman saya yang masih rapuh. Ibu saya rasanya tidak mampu menjawab dengan benar seperti apa yang saya butuhkan. Solusi dari beliau adalah berdoa minta bantuan Allah karena hanya Allah-lah yang bisa memberikan hidayah kepada siapapun dan Allah-lah yang maha penolong.

Paginya, setelah sholat Dhuha bersama beliau, saya kembali bertanya, adakah surat di Al-Qur'an yang perlu saya baca agar saya mendapatkan petunjuk. Beliau menyarankan baca dari awal saja atau baca khusus surat At-Taubat. Akhirnya saya lakukan anjuran beliau, dan benar saja. Setelah sholat dhuhur, maksud saya ingin tidur siang, saya iseng-iseng melihat youtube dan content paling atas adalah debat Dr. Zakir Naik. Mashaallah, jalan dari Allah sungguh tidak disangka-sangka. Youtube yang selama ini sudah ada di depan mata dan saya tidak kepikiran sama sekali, bisa memberikan solusi untuk memantapkan iman saya. Akhirnya kala itu saya langsung kumpulkan itu video-video sejenis, seperti dari Ust Hanan Attaki, Yusuf Estes, dan beberapa saudara non-muslim yang reverted ke Islam. Saya mengakui bahwa ketika melihat seseorang dan memperhatikan alasannya menjadi mualaf-lah yang membuat saya mantap kembali dengan keimanan saya.


===TO BE CONTINUED===

Categories

management (15) supply chain (10) career (9) hairashid (9) FMCG (8) HR (7) hidayah (7) islam (7) retail (6) marketing (5) traveling (5) sales (3) recruiter (2)
Copyright © HAIRASHID | Design by HAIRASHID